Terkadang aku bingung dengan perkataan bahwa dalam berorganisasi kita bisa belajar konflik atau kata teman disampingku manajemen konflik.Sekarang aku ingin kembali ke hakikat hidup. Apakah hidup itu untuk mencari konflik ? atau Konflik yang akan mencari hidup? kenapa kita harus berorganisasi jika ingin belajar konflik ? Apakah konflik akan selesai hanya dengan berorganisasi?
Tulisan ini hanya untuk mengkritik saya sebagai aktivis yang terkadang memandang rendah orang yang tak mau berorganisasi seperti abang saya.
Terkadang aktivis menganggap dirinya cermin dari agen perubahan yang membela masyarakat lemah.Mereka akan meneriakkan keadilan dimana-mana. Merekalah pencetus demo dan bergulingnya satu rezim ke rezim yang lain. Tapi apakah mereka berpikir bahwa kadang keadilan yang mereka kata-katakan di berbagai forum merupakan ketidakadilan bagi orang lain. Apakah mereka bisa seenaknya menuduh pemerintah tak becus bahkan dianggap tak lebih dari binatang ternak. Sekarang saya (bukan aku) mengajak anda dalam pengandaian. Bagaimanakah yang terjadi jika mahasiswa itu bertukar posisi dengan pemerintah dan hampir 75 % pasti akan menyebabkan keadaan seperti di awal paragraf.
Bukankah kebanyakan dari orang-orang di pemeritahan adalah bekas aktivis di organisasi ke MAHA siswaan.Bukankah banyak di antara koruptor dulunya ketika masih muda adalah mahasiswa yang aktif melakukan gebrakan anti KKN. Bukankah ini siklus yang hampir terjadi terus tanpa harus tahu kapan akan berhenti.
Pikiranku sedikit terusik ketika memikirkan hal diatas, aku baru sempat menulisnya sekarang dan menulisnya secara singkat sekarang.Inilah tulisan biasa yang kadang membuatku berpikir haruskah aku ikut berorganisasi.Bukankah secara normal kita tidak menginginkan adanya konflik dan ingin hidup damai.Entahlah
(image from http://www.megamohr.de/Pictures/chaos.gi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar